Mempertahankan Tegakan DAS Cidanau




Nana Prayatna Rahadian (50) sampai bosan ditawari uang hingga miliaran rupiah dari pabrik-pabrik pembuang limbah. Penggagas skema jasa lingkungan di Daerah Aliran Sungai Cidanau, Banten, itu bergeming. Nana memilih melestarikan DAS Cidanau sambil memberikan maslahat kepada petani.
”Saya diberi tahu, uang itu untuk pertemanan. Kalau mau jadi teman, beresinsaja limbahmu. Saya jawab begitu,” kata Nana.
Pada tahun 2002, misalnya, uang kontan dari pengeruk pasir sudah di depan mata. Tawaran uang dari perusahaan besar juga menghampiri tiga tahun kemudian. Lain waktu, Nana melihat sendiri uang yang begitu banyak hingga amplop coklat pembungkusnya tak bisa ditekuk.
”Kenapa mereka tahu ya kalau di rumah saya lagi enggak ada beras. Mana anak harus bayaran sekolah. Rumah juga masih ngontrak, kecil lagi,” kata Nana sambil tertawa. Syukurlah sang istri memahami prinsip pasangannya yang Nana istilahkan tak ”melacur” meski harus berutang.
”Tahan lapar sedikit. Akhirnya saya bisa survive (bertahan). Kalau dapat duitnya saja, bisa tetapi kepercayaan dan harga diri hilang. Rezeki sudah ada yang mengatur,” ujarnya.
Nana adalah penggerak warga untuk menjaga pohon-pohon di lahan mereka. Warga tetap memperoleh hasil dari tanaman produktif sekaligus menerima insentif untuk mempertahankan tegakan. Hasil perkebunan, seperti durian, manggis, duku, petai, melinjo, jengkol, dan cengkeh, dijual.
”Petani pun dapat insentif Rp 1,35 juta per hektar setiap tahun. Di setiap hektar, mereka harus mempertahankan setidaknya 500 pohon. Setiap pohon diberi nomor,” katanya.
Warga harus melapor kepada Nana jika ada pohon tumbang untuk segera diganti. Insentif ditransfer melalui kelompok. Setiap kelompok memiliki 25 hektar lahan. Verifikasi jumlah pohon dilakukan setiap enam bulan. Jika satu anggota tidak patuh, kelompok tidak mendapatkan insentif.
Cara tersebut dilakukan agar ketua kelompok bertanggung jawab atas anggotanya. Petani yang bermitra dilarang menebang pohon di lahannya. Setiap petani rata-rata punya 0,2-0,5 hektar lahan. Nana beraktivitas lewat lembaga swadaya masyarakat (LSM) Rekonvasi Bhumi yang dibentuk pada 13 Desember 1998.
Saat ini, warga yang menjadi mitra terhimpun dalam 13 kelompok dan ikut berpartisipasi menghijaukan Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidanau. Setiap kelompok rata-rata beranggotakan 50 orang. Selain itu, ada 17 kelompok yang berkomunikasi dengan Nana untuk ikut mendukung pelestarian DAS Cidanau.
Mereka, misalnya, mendapatkan pelatihan merawat pohon, budidaya tanaman cokelat, dan cara memberantas hama. Kelompok juga menerima bantuan bibit, sosialisasi pelestarian hutan, serta membuat embung untuk menampung air dan bendung penahan erosi.
Semua kelompok itu tersebar di 15 desa di Kecamatan Ciomas dan Padarincang, Kabupaten Serang, serta Kecamatan Mandalawangi di Kabupaten Pandeglang. Luas DAS Cidanau 22.620 hektar, termasuk di dalamnya Cagar Alam Rawa Danau dengan luas sekitar 2.500 hektar.
Di DAS Cidanau juga terdapat Cagar Alam Tukung Gede dengan luas sekitar 2.500 hektar. Pelestarian Cidanau sebagai fokus Rekonvasi Bhumi berawal dari program pengenalan istilah Keanekaragaman Hayati (Kehati) pada 1998. Nana ditunjuk menjadi koordinator.
Dia berkunjung ke Cagar Alam Rawa Danau dan melihat keanekaragaman hayatinya yang sangat khas. Belakangan Nana sadar bahwa ada kawasan yang lebih luas, yaitu DAS Cidanau. Forum Komunikasi DAS Cidanau kemudian dibentuk yang terdiri dari 25 lembaga.
Pengelolaan DAS Cidanau diterapkan secara terpadu yang dilakukan antara lain Pemerintah Provinsi Banten, Pemerintah Kabupaten Pandeglang, Pemkab Serang, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, Balai Pengelolaan DAS Citarum Ciliwung, dan perusahaan swasta.
Awalnya, Nana dihadang kendala tingkat pendidikan warga yang rendah. Sebagian besar warga tidak tamat sekolah dasar. Penolakan menjadi biasa. Warga ketakutan tanah dan pohonnya diambil, tak boleh masuk ke kebun, atau tidak bisa menggarap lahan. Maka, warga harus sering dikunjungi.
”Pendekatan dilakukan hingga lima tahun, baru mereka mau bermitra. Kini warga tak kekeringan lagi bahkan saat kemarau,” kata Nana.
Sementara sumber dana untuk bibit dan dukungan lain berasal dari Yayasan Kehati, Krakatau Tirta Industri, Asahimas, dan pemerintah lewat skema hibah.
Berkat dedikasinya, Nana menerima Kalpataru kategori Penyelamat Lingkungan pada tahun 2010. Nana bergerak di wilayah yang belum terjamah pemerintah. ”Kalau pergi ke beberapa desa terpencil, jangankan mobil, sepeda motor pun harus pakai rantai karena jalan sangat licin,” katanya.
Selepas kuliah, Nana bekerja di perusahaan konstruksi selama sembilan tahun. Perusahaan tersebut kolaps lantaran krisis moneter menghantam Indonesia pada 1997. Nana kemudian bergabung dengan LSM yang melaksanakan program padat karya untuk mengatasi krisis.
Program tersebut mendorong masyarakat kembali ke kebun untuk menggarapnya dan dibayar. Namun, Nana tidak sreg dengan keberadaannya di LSM itu sehingga membentuk Rekonvasi Bhumi. Forum Komunikasi DAS Cidanau menyusul didirikan pada 24 Mei 2002.
Nana telah melanglang buana untuk menyampaikan presentasinya antara lain ke Skotlandia, Australia, Nepal, dan Kosta Rika. Dia pun berkeliling Indonesia, seperti ke Aceh, Kepulauan Riau, Papua, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Bali, Bengkulu, dan Lampung.
Pemprov Banten bahkan menganggap Nana semacam aset. Dalam suatu pertemuan, seorang kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) Pemprov Banten mengungkapkan kekhawatiran bahwa Nana akan ”dibajak” provinsi lain sehingga perhatiannya terhadap DAS Cidanau berkurang.
Beberapa pemprov lain memang meminta Nana melakukan pengembangan kemitraan di provinsinya, seperti di DAS Cidanau. Bagi Direktur Eksekutif Rekonvasi Bhumi itu, sangat mengharukan saat menyaksikan sebagian warga menyisihkan sebagian insentif mempertahankan pohon untuk kemaslahatan sesama.
”Mereka menyantuni anak yatim, membeli karpet masjid, dan membuat jaringan pipa air bersih yang berfaedah untuk semua,” ujarnya. (Ichwan Susanto, Galuh Bimantara)
Sumber: Kompas | 16 Juni 2015

No comments:

Post a Comment

Pages